Minggu, 31 Mei 2009

:*:Antrianku Semakin Mendekat:*:



Cikarang, 26 Mei 2009 jarum jam diangka 12.03 dalam kamar bernuansa merah dan biru

"Meski kurapuh dalam langkah... kadang tak setia kepadaMU,, bla... bla.. bla.."
Suara khas Opick yang menghentak ditengah sunyi nya malam,,, menyadarkan aku dari lelapnya rengkuhan kain lembut bermotif mawar merah kesayanganku yang menyelimuti benda persegi panjang yang terbuat dari foam nan nyaman (ffhh.... cukup nyaman untuk ku saat ini)

Subhanallah... Wonderful night.... So many Thanks to Allah,,, That gave me a chance to see this night. Alhamdulillah....... Sengaja HP masih dalam keadaan non aktif, agar dering SMS tak menggangguku dalam menikmati malam yang lumayan dingin (emang beberapa hari kebelakang, cikarang lebih dingin dari biasanya). Meski malam ini tak ada bedanya dengan malam2 sebelumnya,,, pekatnya sama,,, heningnya sama,,, nuansa ruangan tempat tinggalku pun sama, tak ada perubahan dari isianya sampai sang empu nya.

Uppss... ada yang sedikit beda dari ku ternyata... malam ini kutinggalkan usia perak kehidupanku. Dengan mata yang bener2 berbentuk garis (mungkin,, coz dari semua foto,, mataku pasti menunjukan garis lurus... apalagi pas ngantuk.. hikss..) kusentuh air dari kran yang sedingin air dingin di frezerku. iaahh... lebayisme (serius emang dingin koq).
Subhanallah... dinginnya air ini bener2 membuat mata sipitku berubah nama jadi belok (ejaan sama dengan "bekam") hhmm... Allah memang sebaik2 pengatur. Thanks ya Rabb....

Masya Allah... tetes air mata mengurai ketika diatas meja tepat dihadapanku ada tumpukan dua buah kitab yang ba'da Isya tadi baru aku tadabburi, tepat surah ke-5. Entah seberapa sering aku melupakan kalamMu yang menjadi petunjuk hidup hambaMU yg Engkau turunkan melalui utusanMu yang mulia. Entah berapa sering aku lebih asik dengan gambar2 fiktif di pesawat yang bernama televisi. Ketika aku sedih,,, do'aku menjadikan Al-Qur'an sebagai penawar hatiku, pengusir keluh kesahku... sungguh bertolak dengan kemalasan tatkala diri berkubang keceriaan. Astaghfirullah...

Rabbana... belumlah sempurna hati ini bermunajat kepadaMu,,, slide-slide pergantian hari yang mengiringi perjalanan panjang menuju pusat antrian bak tayangan di projector yang terus memaksaku untuk melihat meski kupejamkan mata ini dengan ketundukan kepala yang menyiratkan kehambaan seorang hamba, toh semua gambar itu tetap menguasai pikiranku,,, mendominasi seluruh daya ingatku,,, mencengkeram segala keangkuhan yang mengkungkung.
Seperti seorang raja dia memaksaku menelan kumpulan rasa,,, khilaf, salah, ego, angkuh, kotor, hina dan semua perasaan yang terakumulasi menjadi gunungan dosa yang puncaknya adalah rasa penyesalan. La Illaha Illa anta Subhanaka inni kuntu minaddzolimiin...

Kini,,, bilangan usiaku semakin besar,,, sejalan dengan itu,,, jatah waktuku semakin berkurang. Antrian semakin mendekati tujuan. Entahlah... Apakah bekal yang selama ini aku kumpulkan sudah dapat aku banggakan di depanku sendiri? apakah catatan amal ini sudah cukup untukku menerima jatah catatan dengan tangan kanan? Takkan cukup!!! so,,, teruslah berusaha,,, teruslah meminta hidayah dari Nya.
Aku tak tahu apa mungkin rayuan dari mulut seorang hamba yang penuh dengan noda dan kotor ini akan diterima? Satu yang pasti,,, aku ingin tetap merayu sampai aku tak sanggup lagi merayu karena batas waktu yang Engkau berikan untuk menyimpan pundi-pundi bekal di akhirat sudah selesai. "Rabbana Dholamnaa Anfusana wa illam taghfirlanaa wa tarhamnaa lanakunanna miinal khoosiriin..."

Selama masih ada nafas di badan ini,,, tentulah masih ada kesempatan untuk syaiton berperan aktif menyesatkan dengan ribuan cara,,, berilah keistiqomahan kepadaku ya Rabb,,, berilah hidayahMu agar aku selalu memohon perlindungan dari tipu daya syaiton laknatullah. Laa Hawla walakuwwata illabillah...

Kurapikan kembali mukena bermotif bunga2 timbul yang terlihat cantik di badanku (hikss... narsisme yang berlebihan), kubaringkan jasad ini kembali ke busa yang nyaman, kuambil benda hitam bertuliskan sony ericson dengan seri w200i yang setia menemaniku disetiap moment. kuaktifkan lagi... beberapa saat terdengar suara merdunya edCoustic --Duhai pendampingku, akhlakmu permata bagiku,,, buat aku makin cinta-- (entah apa maksudnya ngaktifin ringtone ini... *ngarep.com :D), terbaca sebuah pesan dari sahabat yang tanggal 2 Juni 2009 akan menyempurnakan 1/2 agamanya lewat walimahan (Barakallu laka wa baraka 'alayka wa jama'a bainakumma fi khoiir) begini bunyi pesanya "Happy bday-mg dgn b'tmbhnya usia, b'tmbah pl kCntaan mb kpdNya,barokah sisa hdpny, dmurahkn rzknya n dmdhkn sgla inginy.. mg cpt nyusul deh mb, mf my ga bs ngsh apa2."

Amiin Allahumma amiin kuberucap dengan lirih. sedih namun tersenyum, kalimat "semoga cepat nyusul" mengingatkan akan kejadian 3 bulan kebelakang, tak terasa air bening kembali keluar dari sudut mataku. Ya Rabb... semoga semua do'a Engkau ijabah... Engkau mudahkan segala urusanku. Kembali ku untai senyum dengan asa yang lebih sempurna dengan diiringi kalimat terindah dari murottal surah ke-55 yang terdengar dari MP3 ku.
-- Arrahmaan. Allamal Qu'an. Qolakol Insaan........

Kamis, 21 Mei 2009

1 Pertanyaan Putri||

Kampoeng Poetri tahoen 1988>>
Ibu kasih tau yo nduk,,, jangan keseringan manjat pohon karsen (sejenis cheri, atau orang selatan nyebutnya thalok) opomeneh nganti tiduran diatas pohon. Kamu itu cah wadon,,, piye kalau jatuh, kena batu dibawahnya. Ibu juga sering dibilangin tetangga,, kamu di TPA nggak pernah bisa diam... playon kesana kesini.
Kenapa diam,,, yen gitu, bener ya... yang ibu dengar?

Ibu cuma geleng-geleng kepala setelah mendengar jawaban "iya" dari putri bungsunya.
Memasuki gerbang sekolah dasar, putri tumbuh menjadi sosok anak yang tomboy, dengan karakter yang ogah takut dengan teman laki-laki apalagi dengan kaumnya. Mancing, main benthik, panjat pohon sampai panjat pagar vihara (yang kebetulan ada di jantung desa, sering putri ngintip ada apa dibalik pagar vihara itu) sudah menjadi kebiasaan yang menjadi super biasa di hadapan sang bunda, dimana ke-2 anak perempuanya memiliki sifat yang jauh berbeda.

Kampung Putri tahun 2001>>
Nduk,,, ibu pesen... walaupun kamu jauh dari ibu,,, inget... segala polah kamu akan nyampai ke ibu juga. Ibu memberikan kepercayaan penuh, jangan sekali-kali engkau mengecewakan kepercayaan yang ibu berikan.

Do'a yang keluar dari mulut mulia wanita yang dengan seluruh cintanya mengandung, melahirkan dan mendidiknya,,, terus mendengung ibarat hentakan lebah yang akan menyengat tatkala fatamorgana di sekeliling terbias menjadi suguhan yang merendahkan martabat para pemujanya. iyah,,, benar.... lingkungan yang putri masuki sudah berbeda dengan terakhir putri di kampung,,, dan derajatnya semakin buruk daripada pertama kali menginjakkan kaki di kota tanpa naungan atap rumah yang didalamnya ada adab dalam pergaulan.

Putri,,, tak terlahir dalam keluarga kondusif yang seperti yang diharapkan ketika bayangan pernikahan berseliweran di otaknya yang memang selalu dihiasi kata "Baiti Jannati"
Namun tatkala karakter yang ditanamkan keluarga berbenturan dengan relaita di lingkunganya, membuat putri gamang,, antara "iya melihat saja" meski dengan pengingkaran dalam hati,,, atau "tidak, untuk mendiamkan saja" dengan resiko ada stampel "sok ngerti, sok ngurusin, sok... atulah terserah apa kata kalian. :D"

Realita pergaulan yang sudah salah kaprah. Mungkin dimata pemuja cinta --yang ini cinta yang diharamkan yahh-- orang yang mempunyai ikatan cinta syaiton (ungkapan apalagi ini) --yang ngetrend dengan "pacaran". tak pacaran berarti suatu yang memalukan,,, konvensional atau lebih parahnya nggak laku (Masya Allah,,, seperti dagangan ajah ya...) itulah,,, dan itu fakta yang tak perlu repot2 untuk mengshohihkan dengan survey. Adalagi yang membisikkan rayuan "gimana mau nikah kalau nggak pacaran" hmmm...... padahal sudah teruji dengan valid, buaanyak ikhwah dengan jalur yang syar'i mewujudkan kata indah "Baiti jannati" .

Parahnya ketika fenomena ini sudah mewabah,,, para pemujanya serasa mempunyai kuasa atas nasibnya,, atas Qodarnya bahwa pacarnyalah yang akan mendampinginya. Kalau sudah seperti itu mereka pura-pura amnesia dengan syari'at yang telah Allah Ta'ala turunkan (Naudzubillah). Siang malam berduaan,,, kemana-mana selalu berdua (apatah tak ada lagi mahrom yang mau menemani,,, dibenak putri,,, alangkah beruntungnya dia menjadi putri yang jauh dari manja). Lalu bagaimana seumpama takdir Allah berkehendak lain? hmmm,,,, putri harus berjuang keras untuk mengetahui jawaban dari pertanyaanya.
Adakah yang bantu mau kasih jawaban untuk putri?????????

Jumat, 15 Mei 2009

:*:Kemuliaan Diri dalam Asa:*:


Ketika jiwa terasa kerontang,,,
ketika hati tak lagi gelisah,,,
ketika niat tak lagi berpadu dengan ketundukan raga,,,
ketika khalbu tak lagi merindui kepasrahan,,,
Apakah ini yang dinamakan karat hati?
Ketika mata tak menuruti khodratnya,,,
Ketika telinga tuli dengan kebenaran,,,
ketika penciuman tak menuruti fitrohnya,,,
ketika bibir hanya mengeluarkan keluhan,,,
ketika kaki tak ingin lagi menapaki kemuliaan,,,
Mungkinkah ini yang disebuti kefuturan?
Ketika diri hanya menuruti hawa,,,
Ketika pribadi tak peduli dengan janji,,,
Ketika perilaku hanya membutuhkan sanjungan,,,
Ketika kesalahan tak dijadikan pelajaran,,,
Ketika perbuatan hanya untuk mendapatkan pengakuan manusia,,,
Benarkah ini yang bernama kemunafikan?
Duhai Rabb yang Maha Tinggi........
Pribadi ini hanya mengharapkan pengakuan-MU
Langkah ini hanya menginginkan Ridho-MU
Hati ini hanya menginginkan hidayah-MU
Setiap detak jantung ini hanya menghamba kepada-MU
Wahai Rabb yang Maha Suci........
Bersihkanlah karat yang menutupi khalbu ini,,,
Sucikanlah debu yang melekati jiwa ini,,,
Terangilah pekat yang menggelapi ruh ini,,,
Luruskanlah niat yang mengingini ridho-Mu di jalan ini,,,
Sungguh... jiwa ini takkan pernah sanggup Engkau biarkan,,,
Sungguh... langkah ini takkan pernah sanggup Engkau tinggalkan,,,
Sungguh... diri ini takkan pernah sanggup tenggelam dalam kefuturan
Sungguh... hati ini takkan pernah sanggup berkubang dalam kemunafikan,,,
Yaa Rabb yang Ahad....
Getarkanlah hati ini karena keagungan nama-MU
Gemuruhkan dada kami demi mendengar kallam-MU
Tangiskanlah mata ini karena kecintaan kepada-MU
Hiasilah pikiran ini untuk selalu mengingat-MU
Ijinkanlah bibir ini untuk senantiasa memuliakanmu
Tundukkanlah diri ini untuk selalu menghamba kepada-MU
Mantapkanlah langkah ini untuk senantiasa menapaki jalan lurus-MU
"Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah meraka yang apabila disebut nama Allah gemeterlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhan-lah mereka bertawakal." (QS.8:2)

Selasa, 12 Mei 2009

Muhasabah||



Wahai Pribadi yang Hanif,,,
pernahkah engkau menghitung berapa banyak nikmat yang dihidangkan ketika engkau membuka penglihatanmu, menyaksikan indahnya keremangan shubuh yang dihiasi embun di diatas kelopak bunga-bunga nan cantik yang senantiasa bertasbih memuliakan Rabbnya?
---Lalu, bagaimana engkau tidak merasa malu dengan sekumpulan bunga yang berlomba-lomba mentauhidkan dan mengagungkan Rabbnya,,, bagaimana engkau merasa lebih sempurna, tatkala engkau enggan untuk bangun, membasahi tubuhmu yang dihiasi bermilyar kenikmatan dari cinta Rabb mu dengan air untuk mensucikan anggota badanmu,,, bagaimana engkau merasa lebih mulia tatkala tubuhmu terasa berat untuk bersujud menghambakan diri kepada pemilik ragamu,,, bagaimana pula engkau merasa lebih pintar tatkala lidahmu tak basah dengan dzikrullah dan pikiranmu tak pernah mentadaburi kalimat Rabb mu yang sempurna?

"Dan tumbuh-tumbuhan dan pohon-pohon, kedua-duanya tunduk kepadaNYA. (QS. 55:6)

Ikhwah fillah,,,
Pernahkah engkau mengkalkulasi nikmat yang tersaji ketika kedua kaki mu melangkah untuk menjemput rizki dari Rabbmu, lihatlah disana duhai ikhwah... disebatang pohon disisi jalan itu,,, sekumpulan lebah sedang berlomba-lomba mengumpulkan serbuk sari dan nektar. Dan subhanallah... alangkah mulia nya mereka,, ketika madu yang mereka hasilkan engkau pakai untuk menjaga ketahanan tubuhmu,, engkau nikmati untuk merawat kecantikan kulitmu.
---lalu bagaimana engkau tak merasa risih tatkala ada seorang bocah kecil berlari menghampirimu, berharap engkau sisihkan sedikit dari rizkimu,,, bagaimana engkau merasa lebih dermawan ketika tak kau keluarkan 2,5% dari simpananmu untuk saudaramu yang membutuhkan,,, bagaimana pula engkau merasa lebih mengerti ketika tak kau hiraukan keinginan keluarga dan teman-temanmu yang membutuhkan sedikit waktu luangmu untuk sekedar berbagi, mengukuhkan ikatan silahturahim?

"Dimanakah orang-orang yang saling mencintai karena keagungan-KU pada hari ini? AKU akan menaungi mereka dalam naungan-KU, pada hari yang tiada naungan kecuali naungan-KU" (HR. muslim)

Untukmu Jiwa yang Bertauhid,,,
Pernahkah engkau mengukur tingginya nikmat Illahi tatkala penat mengkabutimu? aduhai jiwa yang bersih... lihatlah mentari itu,,, dia lelah menyinari belahan bumi tempat kau menapak,,, tapi dia tak letih untuk menerangi belahan bumi yang lain,,, karena surya itu selalu tunduk dengan perintah Rabbnya. Dia tenggelam dalam pekatnya malam,,, tapi dia memberikan kesempatan rembulan untuk memanfaatkan sedikit sinarnya, sekaligus memberikan peluang untuk selalu tunduk dengan aturan Rabbnya.
---Lalu, bagaimana engkau tak tersindir ketika yang kau lakukan hanya untuk mencari pembenaran atas letihnya badan, yang karenanya engkau bermalas-malasan,,, karena lelah berjuang, engkau habiskan malammu dalam istirahat yang melampaui batas tanpa engkau hiasi dengan muhasabah,,, mengapa tak engkau rindui nikmatnya berkhalwat dengan Rabb mu di 1/3 malam terakhir,,, bagaimana tak kau ambil peluang kepada penlihatanmu untuk menangis memohon ampunan kepada Rabbmu,,, bagaimana kau sia-saikan kesempatan bibirmu untuk berdzikir dan bermunajat hanya kepada Rabbnya?

"Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan. Tuhan yang memelihara kedua tempat terbit matahari dan Tuhan yang memelihara kedua tempat terbenamnya" (QS.55: 16~17)

Duhai diri yang sholih,,, ingatlah setiap detak nafasmu akan dimintai pertanggung jawaban,, muliakanlah diri mu dengan menerima catatan dengan tangan kananmu. Dan akhirilah tujuan hidupmu dengan perjumpaan dengan Wajah Rabbmu kelak di tempat terindah di kelilingi sungai-sungai dan taman-taman yang abadi,,, bersama bidadari-bidadari bermata Jeli.
Subhanallah,,, Alhamdulillah,,, wa Laa Illaha Illallah,,, Allahu Akbar.

**untuk pengingat ketika kefuturan menghinggapi diri.


Senin, 11 Mei 2009

:*: Catatan seorang Ukhty yang merindukan FirdausNYA :*:


Berbicara tentang sosok wanita memang tak pernah ada akhirnya. Sosok yang merupakan perpaduan gambaran unsur keindahan, kecantikan, keelokan, kelemahlembutan, kehalusan, keanggunan, keluwesan yang terbalut dengan beragam daya tarik yang ada. Hati pria mana yang tak kan tergoda dengan seorang wanita? Bahkan karena begitu mengagumkannya seorang wanita… tiap detil dirinya memiliki pancaran pesona tersendiri yang sungguh memikat di mata pria. Oleh karena itu, ingin sekali diri ini bertanya padamu wahai para jejaka…seperti apakah kiranya wanita yang kau damba sebagai belahan jiwamu, penentram hatimu, pendamping hidup yang akan menjadi ibu dari buah hatimu? Apakah kau inginkan terkumpul padanya kelebihan agama, rupa, harta, dan segudang kelebihan lain yang melekat pada dirinya?

Aduhai…kiranya sungguh sempurna impianmu tentang wanita dunia. Dan sekarang lihatlah dirimu…apakah engkau adalah sosok yang sempurna tanpa cela? Hingga engkau harapkan wanita dunia laksana bidadari surga yang sempurnanya tiada tara?

Wahai para pemuda…jadilah dahulu lelaki penghuni surga, barulah engkau bisa bersanding dengan bidadari yang anggun sempurna, berparas jelita membuatmu terpana Karena jika engkau mencari wanita dunia layaknya bidadari surga…sama saja kau habiskan hidupmu dalam asa. Namun janganlah kecewa jika nyatanya kau tidak mampu beristrikan wanita yang hampir sempurna, bahkan ketika kau dapatkan istrimu hanya wanita dunia yang biasa – biasa saja.

Dengarkanlah saudaraku…

Pilihlah wanita shalihah, karena dia merupakan perhiasan yang paling berharga dan paling indah bagi lelaki pendamba kenikmatan surga. Dengan memperistrinya, dia akan membantumu dalam mengerjakan ketaatan, mengingatkanmu dari kealpaan, setia di sisimu mengarungi bahtera pernikahan. Dialah wanita yang akan menghantarkanmu menuju FirdausNya yang berisi segala kenikmatan dan kesempurnaan. Dan di sanalah…ya…di sanalah akhirnya kau akan dapatkan wanita penghuni surga yang sungguh sangat sempurna.

Namun sungguh sangat disayangkan manakala amal tidaklah selaras dengan ilmu. Apa engkau akan mencari berjuta dalih yang membenarkan hawa nafsumu?? Sekali – kali tidak! Betapa meruginya seseorang yang membaca dalil namun tidak dapat menggunakan sesuai dengan tempatnya.

Dan kini saatnya wahai para wanita dunia…jika engkau merasa kurang cantik, tidak menarik, dan belum terlalu baik…jangan kau kumpulkan 2 keburukan khalq dan khuluq sekaligus dalam dirimu. Berakhlaklah sebagaimana wanita penghuni surga yang didamba setiap pria, dan akhirnya jadilah kau Sang Primadona.

**Syukron wahai ukhty al mahbubah.
airmata keharuan mengiringi saat engkau persembahkan catatan yang indah ini untuknya, duhai bidadari yang mulia. T_T
Jazakillah khoir.

Minggu, 19 April 2009

Puteri, Bagaimana Cermin itu ||CP

Saat ini malam telah larut, cuaca terasa dingin dan sekitarku menjadi hening, sebening hati dan perasaan sayangku kepadamu. Walau kini tidak disampingmu, aku masih selalu ingat padamu, seperti yang kulakukan setiap waktu. Dan kini, kujalankan jari-jemariku untuk menulis sebuah surat yang hanya khusus untukmu…..bukan untuk yang lain….

Puteri..
Aku teringat akan cerita ibumu tempo hari…
Saat itu engkau masih kecil seumur bayi..
Engkau belum bisa apa-apa, sehingga untuk menarik perhatian, engkau hanya menangis ditengah malam membangunkan keluarga.


Kemudian, engkau tumbuh menjadi gadis kecil yang selalu bermanja di pangkuan Bunda. Dan waktu terus berjalan…..sehingga kini engkau telah menginjak remaja. Engkau menjadi semakin besar, pintar, dan makin banyak pengalaman hidup yang telah engkau miliki. Ah…aku pun jadi rindu ibuku…mungkin akupun seperti itu saat masih kecil.


Puteri….
Saat ini, aku sedang melukis bentuk kamarmu dibenakku. Kamar dimana kita sering berkumpul untuk bercerita banyak hal. Aku masih ingat detil kamarmu, ada almari baju, rak buku, kotak permen, dan Hmmm……cermin itu …yang selalu kau sebut sebagai cermin paling indah… Engkau memang sudah lama memilikinya, dan aku yakin engkau pasti makin suka, karena setiap hari membutuhkannya.

Puteri….. Aku teringat sesuatu tentang cermin itu. Dirumahmu, ada satu lagi cermin besar di ruang tamu. Tak jarang aku melihatmu bercermin disitu ketika engkau tergesa-gesa berangkat.Bahkan didepan kaca jendela, sering….sering sekali aku melihatmu mematut diri apakah terlihat rapi atau tidak. Agar teman-temanmu nanti tidak mengolokmu, begitu selalu katamu.Aku menduga, mungkin engkau juga sering mengaca didepan etalase pertokoan untuk bercermin. Iya nggak ?


Puteri yang amat kusayangi,,,, Jauh di lubuk hati yang paling dalam, ada yang ingin kubicarakan dengamu hari ini. Hanya sebentar saja, cukup sebentar. Nggak akan lama. Engkau ada waktu, kan?


Bukan, bukan pertanyaan bagaimana kabarmu, atau kabar teman-teman seperti yang biasanya kita bicarakan. Namun lebih dari itu. Aku ingin kita berbicara khusus mengenai diri kita,karena aku sadar bahwa semakin hari kita tumbuh semakin tinggi, bukan hanya tinggi badan kita, namun juga ketinggian pola berpikir kita. Kita bukan kanak-kanak lagi yang harus menyuruh kita begini begitu. Kini kita sudah besar, sehingga banyak yang harus kita siapkan agar makin dewasa untuk menentukan sendiri jalan hidup kita nanti.


Wahai puteri….. Hari demi hari telah kita lalui.Telah banyak perubahan yang terjadi , ‘kan? Izinkanlah aku untuk bertanya sesuatu padamu…Kalau kau pandangi dirimu di cermin indah kamarmu itu, apa yang engkau lihat disana? Apakah sesosok gadis remaja yang sudah cukup matang mengarungi hidup ataukah yang masih menjalani proses perubahan membentuk diri? Mungkin, engkau akan menjawab kedua-duanya…atau mungkin hanya salah satu jawaban…
Nggak apa-apa Puteri…Aku bisa memahaminya….


Puteri, ketika engkau didepan cermin yang indah itu….
Masih ingatkah dirimu berapa sering engkau bercermin?
Dan sadarkah engkau siapa yang muncul di cermin itu?
Ya, memang itu adalah engkau.Engkau Puteri…


Engkau yang dulu terlahir dari rahim Bunda, setelah malaikat meniup ruh dan menulis catatan tentangmu ketika engkau masih menjadi janin usia 4 bulan.


Wahai Puteri…. Ketahuilah…Kita semakin beranjak dewasa, dan telah banyak waktu yang kita lalui bersama-sama. Kukenal dirimu jauuuh lebih baik dari yang lainnya. Begitupula sebaliknya. Ada satu hal yang ingin kutanyakan lagi, “Apakah saat ini engkau telah mengenal dirimu sendiri, wahai saudaraku tercinta?Bukan sekedar mengiyakan bahwa sosok bayangan depan cermin itu adalah dirimu? ” Jawablah Puteri, tak usah engkau malu-malu…..karena ini penting. Ini penting sekali sebagai bekal hidupmu kelak, karena seperti yang kita sama-sama mengerti, sekarang ini kita sedang dalam proses mendewasakan diri…dan itu butuh bekal agar kita tidak salah arah.


Puteri sayang….. Izinkanlah aku mengatakan sesuatu kepadamu…


Ketahuilah oleh dirimu, bahwa aku dan kau sama-sama manusia, dua orang hamba yang banyak diberi karunia oleh Allah….karena memang Allah yang menciptakan diriku dan dirimu… Allah yang memenuhi kebutuhanku dan kebutuhanmu, dan Allah pula yang telah mengatur semuanya sehingga kita tumbuh segini besar. Hanya Dia, Puteri….
Ditangan-Nyalah diatur segala urusan, termasuk urusan langit, bumi, hewan, tumbuhan, dan kita para manusia…. Allah di atas langit pula yang telah menentkan bahwa kita tercipta sebagai wanita, sebagai muslimah…Dan lihatlah, betapa tingginya Allah memberi kedudukan kepada kita, sampai-sampai dalam kita suci kita, Al-Quran, Allah membuat surat khusus bernama “An-Nisa” yang artinya perempuan.


Wahai Puteri, engkau masih ingat nama surat itu bukan ? Ini adalah satu diantara sekian tanda bahwa Allah memuliakan kedudukan wanita. Kelak Insya Allah, dari rahim kita lah akan lahir ummat Islam yang banyak, sehingga di hari Akhir nanti, Nabi kita, Nabi Muhammad Shollallaahu’alayhi wa sallam akan mengatakah dengan bangga atas jumlah ummat yang banyak. Bahkan, tentang kodrat wanita, RasuluLlah pun bersabda,


“Sesungguhnya dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita shalehah”.


Hadits ini disampaikan oleh Imam Muslim, dan memang benar dan shahih bahwa ini perkataan Rasul. Engkau kini yakin bukan bahwa Allah dan Rasul-Nya amat menjunjung martabat kita?


Puteri yang amat kusayangi… Kuajak diriku dan dirimu…Yakinlah dengan seyakin-yakinnya bahwa Allah memilih aku dan kau untuk hadir kedunia ini dengan hikmah penciptaan yang agung ; bukan sembarangan, karena Allah Maha Kuasa mencipta apapun yang dikehendaki-Nya, sehingga mustahil bagi Allah untuk sembarangan dalam berbuat, karena Dia Maha Mengetahui dan Maha Luas ilmu-Nya.


Sekarang, cobalah pikirkan lebih dalam… Sampai detik ini, telah banyak sekali nikmat Allah yang tercurah kepada kitam sedari kita kecil sampai sekarang. Dan itu memang karena kebaikan Allah semata, bukan dari yang lain. Allah yang berkuasa berbuat kebaikan, Allah memberi nikmat sehat, ketenangan hati, teman sepergaulan yang baik, ini….itu…., tentu amat sangat banyak, sehingga aku tidak mampu menuliskan semuanya untukmu, karena aku yakin Allah selalu berbuat kebaikan kepada kita semua. Engkau ingat bukan……tempo hari kakimu tidak tergores meski berjalan di atas batu-batu. Itu adalah nikmat Allah yang mungkin terasa kecil bagi kita. Sedangkan nimat yang besar, dan yang paling besar yang mungkin kurang terpikirkan oleh kita…..adalah nikmat iman. Dengan nimat dari Allah yang satu ini, kita bisa dengan bangga menyandang predikat muslimah.


Sungguh Puteri……..tidak banyak wanita-wanita di dunia ini yang bisa dipanggil muslimah. Tengoklah ke negara-negara yang penduduknya tidak mengenal Allah sama sekali, atau mengenal Allah dengan hanya menyebut nama-Nya ketika sedang susah tertimpa bencana, atau bahkan mereka yang malah menyekutukan Allah dengan memohon bantuan kepada selain Dia. Engkau mengetahui keadaan mereka, bukan?


Semoga Allah melindungi kita supaya tidak termasuk golongan mereka. Amin.


Wahai Puteri….. Marilah bersama-sama mengucapkan syukur AlhamduliLlah atas nikmat ini…karena semakin kita mempelajari nikmat Allah dan meyakini betapa Allah Maha Mengetahui atas jiwa-jiwa ini, kita akan bisa semakin memahami hikmah mengapa aku dan kau diciptakan, dan mengapa pula kita semua harus beribadah hanya kepada-Nya…..


Ya, benar….hanya kepada-Nya, karena memang Dia satu-satunya yang berhak untuk disembah. Lain tidak, karena selain Dia hanyalah ciptaan-Nya. Sehingga kita tidak boleh menduakan-Nya dengan apapun atau siapapun. Bagaimana, Puteri ? Engkau memahami hal ini, ‘kan? Aku berharap demikian, karena bagiku, tidak ada yang lebih kuinginkan darimu, kecuali kebaikan untukmu di dunia dan akhiratmu kelah. Karena apa? itu karena aku amat sayang kepadamu…..Aku sayang sekali padamu….


Puteri tercinta, tak terasa sudah kutulis berbaris-baris surat cintaku ini kepadamu. Insya Allah, apa yang kutulis ini adalah sebuah nasehat yang tulus dari hatiku, sebuah nasehat bagiku dan bagimu, agar kita bisa menemukan sosok dewasa cermin indah itu…. karena suatu hari nanti, kita pasti dan harus lebih dewasa daripada hari ini. Dan sebaiknya memang begitu, seiring usia yang bertambah, kita mejadi lebih mengenal akan diri kita yang sebenarnya dan lebih mengerti hak-hak Allah atas diri kita.


Kuakhiri suratku ini…puteri… Semoga Allah mengaruniakan kesempatan kepadaku sehingga bisa kutulis lagi surat untukmu. Dan kuberdoa semoga Allah mengasihi diriku, dirimu, keluarga kita dan kaum muslimin semuanya. Semoga kita selalu mencintai Allah dan Allah pun mencintai kita….Amin. (Sahabat: Asy-D3in)


Rujukan :
1.Abdur Rahman , Abdul Muhsin ; Jagalah Dirimu
2.Majalah As-Sunnah edisi 08/V/1422H-2001 M


Untuk Bunda Tercinta

Terang dilangit pesona bintang nan gemerlap ribuan mil jauhnya
Terang dibumi pendaran sinar reaksi fusi matahari
Terangnya wajah yang cintanya takan redup dengan berlalunya malam
Terangnya wajah yang cantiknya tak hilang dengan bergantinya pagi

Lelah tak pernah kau hiraukan
Letih tak jadi penghalang
Lesu bukanlah hambatan
Lemah badan bukan perintang

Ditengah panasnya matahari, jalanmu tak pernah goyang
Diderasnya hujan, langkahmu tak pernah gentar
Dikelamnya malam, penatmu tak pernah Engkau hiraukan
Didalam penatnya badan, masih kau simpan perhatian

Untuk kami ibu, putra putrimu,
Engkau berjuang, ditengah himpitan kehidupan
Untuk kami ibu, buah hatimu
Engkau abaikan kebebasan

Tak Kau hiraukan luka ditubuhmu
Tak Kau pedulikan perih dihatimu
Tak Kau jadikan beban perilaku kami
Tak Kau jadikan masalah sifat manja kami

Ibu,,
Dengan apa kami berterimakasih padamu
Dengan apa kami balas kasih sayangmu
Sementara keikhlasanmu tak membutuhkan balasan
Sementara kasih sayangmu tak memerlukan imbalan

Hanya sepotong do'a yang mampu kami panjatkan,
Hanya sepotong do'a dalam setiap sujud kami
Untukmu Ibu,,
Wanita yang mengorbankan ambang batas hidup dan matinya
Wanita yang rela mengorbankan kehidupanya, untuk kelahiran kami, kehidupan kami

Ra Rahman,, muliakanlah keluarga kami dengan tetesan embun hidayahmu...
Amiin...